oleh

Eksekusi Tembakan Seorang Anggota TNI Terhadap Oknum Gangguan Kejiwaan di Minahasa, Konsekuensinya Hukum


TopManado.com, MINAHASA-Suatu pemandangan yang sangat tidak lazim, ketika bertemu dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa hilir mudik dijalan mengenakan kostum yang tidak beraturan atau kurang pantas disertai tindakan-tindakan yang kurang bersahabat sering menimbulkan kewaspadaan dari berbagai pihak.

Gangguan jiwa seseorang atau sering disapa “orang gila” banyak kali menjadi sorotan yang kurang baik atau diskriminatif dikalangan masyarakat. Keberadaan orang-orang yang kurang waras tersebut, sering dilihat sebelah mata, bahkan ada yang menganggap sampah masyarakat.

Akan tetapi kali ini tidak demikian bagi seorang pria berzodiak Scorpio ini.
Rasa empati yang tinggi, disertai tindakan yang nyata adalah wujud daripada nilai kemanusiaan.

Menghampirinya dan menyapanya dengan penuh kehangatan “Hai, halo apa kabar, apakah kamu sudah makan, apakah kamu butuh sesuatu” dsb adalah tembakan kata-kata yang jitu selalu terlontar dari mulut seorang pria tampan ini dikala bertemu dengan orang-orang demikian. bagaikan peluru sakti ,kata-kata yang penuh ketulusan itu mampu menembus hati nurani manusia. terbukti hal itu dapat menciptakan respon dan reaksi positif bagi insan yang mengalami gangguan kejiwaan.

Kepada TopManado.com, ayah dari 3 orang anak ini, mengatakan bahwa saat berjumpa dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa atau yang memprihatinkan, hatinya sangat tersentuh.

” Hati saya selalu tergugah jika bertemu dengan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan seperti ini atau bertemu dengan orang-orang yang terlihat sangat memprihatinkan. saya tak tegah melihat wajah-wajah yang penuh harap membutuhkan pertolongan. bibir yang kering menahan dahaga, usapan tangan memegang perut yang keroncongan akibat menahan rasa lapar, tak kuasa menahan langkah saya untuk tidak mendekatinya. Hati nurani saya merasa terkoyak saat ketemu dengan orang-orang demikian. Mencoba memberikan makanan maupun mengulurkan tangan kasih dengan berbagi sedikit rejeki membuat saya melek bahwa ternyata mereka manusia yang sama dengan kita. Mereka sangat membutuhkan pertolongan namun kitalah yang tidak berusaha untuk peka. Anggukan kepala menyatakan iya ataupun kedipan mata saat saya menawarkan sesuatu bantuan sesungguhnya memberikan isyarat bahwa merekapun sungguh sangat membutuhkan perhatian dari kita.
Hati saya selalu mencoba untuk merasakan andaikata saya berada diposisi mereka, tentunya sayapun pasti akan sangat berharap uluran tangan orang lain, “ucap Novi

Lewat pantauan TopManado.com, peristiwa didepan pedagang gerobak, melihat suguhan seporsi bakso yang diberikan oleh seseorang pria dengan penuh kasih dan disantap dengan lahap oleh seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan Senin,12/11/2018, Sungguh pemandangan yang sangat indah, dimana di zaman modern ini dikala manusia dimanjakan dengan teknologi hingga terkadang memberikan efek individualisme dan tidak peduli dengan orang-orang disekelilingnya masih ada seberkas cahaya terang muncul dihati nurani manusia untuk menyinari kegelapan dunia diantara orang-orang yang merasa putus asa dan tak berpengharapan lagi.

Turut merasakan apa yang dirasakan orang lain dan berani bertindak mengulurkan tangan membantu orang lain, adalah falsafah hidup yang pantas diapresiasi kepada pria kelahiran Sonder- Minahasa ini. Perwujudan patriotisme di momentum hari pahlawan 10 November 2018 atas semboyan Dr Sam Ratulangi yaitu Sitou Timou Tumou Tou : Manusia Hidup untuk Memanusiakan Orang Lain serta perwujudan cinta kasih dari figur sosok seorang ayah terhadap sesama, relavan di hari Ayah sedunia, tepat di Tanggal 12 November 2018 ini patut dijadikan teladan.
Pria yang kemudian diketahui adalah seorang bintara ini ternyata memiliki nilai sosial yang sangat dalam. Tugas kemanusiaan yang merupakan bagian dari kewajiban seorang TNI ini sungguh terwujud dalam kesehariannya.

Ucapan yang tulus disertai eksekusi tindakan nyata membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan adalah tembakan yang jitu menyentuh hati nurani manusia.
Ini adalah konsekuensi Hukum Kasih yang sekiranya harus mampu saya terapkan ditengah-tengah keegoisan pribadi, tutur Sertu TNI AD yang saat ini mengemban tugas negara di Kodim 1302 Minahasa.

Rasa empati adalah langkah awal melakukan tindakan yang penuh kasih.
Rasa empati mampu mengurangi prasangka buruk dan rasisme.
Rasa empati terhadap orang dengan gangguan jiwa adalah nilai kemanusiaan yang mampu menyembuhkan orang tersebut.
Semoga dengan empaty dapat menghapus diskriminatif dan predikat rasa takut dan rasa asing terhadap orang yang kurang waras.

“Yang harus dibabat adalah egoisme dan kebencian, dan yang mesti dirajut ialah solidaritas dan kepedulian” (Najwa Shihab)

(IMEY)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed