oleh

Heintje Djefri Kawet, Pengrajin Kolintang Multi Talent Asal Kakas

Topmanado.com, Sulut – Hentje Kolintang atau “HENKO”, yang terletak di Desa Sendangan Kecamatan Kakas merupakan salah satu pusat pembuatan alat musik kolintang di Minahasa yang berdiri sejak tahun 1982.

Kayu adalah bahan baku utama dalam pembuatan kolintang. Sepintas pembuatan kolintang kelihatan sederhana, namun ternyata butuh proses yang panjang untuk menyelesaikannya dan menuntut keterampilan yang istimewa.

Berdasarkan wawancara topmanado.com dengan Heintje Djefri Kawet sebagai salah satu pembuat spesialis kolintang minahasa beberapa waktu lalu, dijelaskan bahwa proses pembuatan alat musik kolintang yang berkualitas sampai siap digunakan memakan waktu kurang lebih satu bulan.

Dimulai dari pemilihan kayu yang berkualitas, pemotongan, direbus, ditiriskan, dimasukkan ke oven ataupun mengasapan sampai benar benar kayu itu kering kemudian dibentuk dan dilaraskan dan hanya para pengrajin yang benar-benar teliti dan memiliki jiwa seni yang dapat melakukannya.

” Kolintang buatan kami sudah cukup dikenal diluar pulau sulawesi dengan nama “HENKO”, kami sudah pernah mengirim di beberapa daerah antara lain Jawa, Kalimantan, Sulawesi Tengah dan Papua. Harga 1 set kolintang antara 25 juta hingga 80 juta, tergantung bahan yang digunakan. Sejak tahun 2013 sampai saat ini perkembangan musik kolintang semakin pesat. Hal
ini terlihat dari semakin banyaknya orderan yang masuk sampai saat ini, “Ungkap pemilik bengkel spesialis pembuat kolintang minahasa dengan nama :HENKO” ini.

Apresiasi yang tinggi disampaikan kepada pimpinan dan pengurus Pinkan Indonesia saat ini terlebih khusus kepada Ibu Penny Iriana Marsetio yang meskipun bukan berasal dari Minahasa tetapi tetap perduli dan berjuang agar Kolintang terdaftar di Unesco dan terus bergiat menjadikan Kolintang sebagai warisan budaya tak benda indonesia khususnya minahasa yang diakui oleh dunia internasional.

“Sebagai daerah asal alat musik kolintang, kerjasama antara masyarakat dan pemerintah Sulawesi Utara sangat diharapkan. Menjadikan kolintang sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal di setiap kurikulum sekolah dan menghadirkan bengkel pembuatan alat musik kolintang sebagai destinasi wisata budaya merupakan upaya-upaya yang bisa dilakukan dalam rangka melestarikan musik kolintang di bumi nyiur ini, ” Saran pelatih, penulis lagu, penulis buku dan pengrajin merangkap seniman kolintang ini.

(CIM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed